Kali ini saya mengutip kisah nyata dari tanah Arab...
dan semoga kita bisa mengambil hikmahnya.. Amiend.. :)
Kisah
ini sangat menggugah. Di dalamnya terdapat hikmah yang besar tentang
istiqomah, kesabaran, dan dakwah. Tentang seorang gadis kecil yang
diberikan hidayah oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Islam dan
berpegang teguh atasnya, walaupun terjadi sesuatu atas dirinya.
Monggo, silakan dinikmati kisahnya..
GADIS KECIL YANG SHALIHAH
oleh: Ummu Mariah Iman Zuhair
Aku akan meriwayatkan kepada anda kisah yang sangat berkesan ini, seakan-akan anda mendengarnya langsung dari lisan ibunya.
Berkatalah ibu gadis kecil tersebut:
Saat
aku megandung putriku, Afnan, ayahku melihat sebuah mimpi di dalam
tidurnya. Ia melihat banyak burung pipit yang terbang di angkasa. Di
antara burung-burung tersebut terdapat seekor merpati putih yang sangat
cantik, terbang jauh meninggi ke langit. Maka aku bertanya kepada ayah
tentang tafsir mimpi tersebut. Maka ia mengabarkan kepadaku bahwa burung
pipit itu adalah anak-anakku, dan sesungguhnya aku akan melahirkan
seorang gadis yang bertakwa. Ia tidak menyempurnakan tafsirnya,
sementara akupun tidak meminta tafsir tentang takwil mimpi tersebut.
Setelah
itu aku melahirkan putriku, Afnan. Ternyata dia benar-benar seorang
gadis yang bertakwa. Aku melihatnya sebagai soerang wanita yang shalihah
sejak kecil. Dia tidak pernah mau mengenakan celana, tidak juga
mengenakan pakaian pendek. Dia akan menolak dengan keras, padahal dia
masih kecil, Jika aku mengenakan rok pendek padanya, maka ia akan
mengenakan celana panjang di balik rok tersebut.
Afnan
senantiasa menjauh dari segenap perkara yang membuat murka Allah.
Setelah dia menduduki kelas 4 SD, dia semakin menjauh dari segenap
perkara yang membuat murka Allah. Dia menolak pergi ke tempat-tempat
permainan, atau ke pesta-pesta walimah. Dia adalah seorang gadis yang
berpegang teguh dengan agamanya, sangat cemburu di atasnya, menjaga
shalatnya, dan sunnah-sunnahnya.
Tatkala
dia sampai SMP, mulailah dia berdakwah kepada agama Allah. Dia tidak
pernah melihat sebuah kemungkaran kecuali dia mengingkarinya, dan
memerintah kepada yang ma’ruf dan senantiasa menjaga hijabnya. Permulaan
dakwahnya kepada agama Allah adalah permulaan masuk Islamnya pembantu
kami yang berkebangsaan Sri Lanka.
Ibu Afnan melanjutkan ceritanya:
Tatkala
aku mengandung putraku, Abdullah, aku terpaksa mempekerjakan seorang
pembantu untuk merawatnya saat kepergianku, karena aku adalah seorang
karyawan. Ia beragama Nasrani. Setelah Afnan mengetahui bahwa pembantu
tersebut tidak muslimah, dia marah dan mendatangiku seraya berkata:
“Wahai ummi, bagaimana dia akan menyentuh pakaian-pakaian kita, mencuci
piring kita, dan merawat adikku, sementara dia adalah wanita kafir?! Aku
siap meninggalkan sekolah, dan melayani kalian selama 24 jam, dan
jangan menjadikan wanita kafir sebagai pembantu kita!!”
Aku
tidak memperdulikannya, karena memang kebutuhanku terhadap pembantu
tersebut amat mendesak. Hanya dua bulan setelah itu, pembantu tersebut
mendatangiku dengan penuh kegembiraan, seraya berkata: “Mama, aku
sekarang menjadi seorang muslimah, karena jasa Afnan yang terus
mendakwahiku. Dia telah mengajarkan kepadaku tentang Islam”. Maka akupun
sangat bergembira mendengar kabar baik ini.
Saat
Afnan duduk di kelas 3 SMP, pamannya meminta hadir dalam pesta
pernikahannya. Dia memaksa Afnan untuk hadir, jika tidak maka dia tidak
akan ridha kepadanya sepanjang hidupnya. Akhirnya Afnan menyetujui
permintaannya setelah ia mendesak dengan sangat, dan juga karena Afnan
sangat mencintai pamannya tersebut.
Afnan
bersiap untuk mendatangi pernikahan itu. Dia mengenakan gaun yang
menutupi seluruh tubuhnya. Dia adalah seorang gadis yang cantik. Setiap
orang yang melihatnya akan terkagum-kagum dengan kecantikannya. Semua
orang kagum dan bertanya-tanya, siapa gadis ini? Mengapa engkau
menyembunyikannya dari kami selama ini?
Setelah
menghadiri pernikahan pamannya, Afnan terserang kanker tanpa kami
ketahui. Dia merasakan sakit yang terasa sangat pada kakinya. Dia
menyembunyikan rasa sakitnya dan berkata: “Sakit ringan, akan segera
hilang InsyaAllah.” Setelah itu dia tidak mampu lagi berjalan. Kami pun
membawanya ke rumah sakit..
Selesailah
pemeiksaan dan diagnosa yang sudah sudah semestinya. Di dalam salah
satu ruangan di rumah sakit tersebut, sang dokter berkebangsaan Turki
mengumpulkanku, ayahnya, dan pamannya. Hadir pula saat itu seorang
penerjemah, dan seorang perawat yang bukan muslim. Sementara Afnan
berbaring di atas ranjang.
Dokter
mengabarkan kepada kami, bahwa Afnan terserang kanker di kakinya, dan
dia akan memberikan 3 suntikan kimiawi yang akan merontokkan seluruh
rambut dan alisnya. Akupun terkejut dengan kabar ini. Kami duduk dan
menangis. Adapaun Afnan, saat dia mengetahui kabar tersebut dia sangat
bergembira. “Alhamdulillah… Alhamdulillah… Alhamdulillah…” Akupun
mendekatkan dia di dadaku , sementara aku dalam keadaan menangis. Dia
berkata: “Wahai ummi, Alhamdulillah, musibah ini hanya menimpaku, bukan
menimpa agamaku”.
Dia
pun bertahmid memuji Allah dengan suara keras, sementara semua orang
melihat kepadanya dengan tercengang!! Aku merasa diriku kecil, sementara
aku melihat gadis kecilku ini dengan kekuatan imannya dan aku dengan
kelemahan imanku. Setiap orang yang bersama kami sangat terkesan dengan
kejadian ini. Adapun penerjemah dan para perawat, merekapun menyatakan
keislamannya.
Berikutnya adalah perjalanan dia untuk berobat dan berdakwah kepada Allah.
Sebelum
Afnan memulai pengobatan dengan bahan-bahan kimia, pamannya meminta
akan menghadirkan gunting untuk memotong rambutnya sebelum rontok karena
pengobatan. Diapun menolak dengan keras. Aku mencoba untuk memberinya
pengertian agar memenuhi keinginan pamannya, akan tetapi dia menolak dan
bersikukuh seraya berkata: “Aku tidak ingin terhalangi dari pahala
bergugurannya setiap helai rambut dari kepalaku.”
Kami
(aku, suamiku dan Afnan) pergi untuk pertama kalinya ke Amerika dengan
pesawat terbang. Saat kami sampai di sana, kami disambut oleh seorang
dokter wanita Amerika yang sebelumnya pernah bekerja di Saudi selama 15
tahun. Dia bisa berbicara bahasa Arab. Saat Afnan melihatnya, dia
berkata kepadanya: “Apakah engkau seorang muslimah?” Dia menjawab:
“Tidak”
Afnan
pun meminta kepadanya untuk mau pergi bersamanya ke sebuah kamar
kosong. Dokter wanita itupun membawanya ke salah satu ruangan. Setelah
itu dokter wanita itu kemudian mendatangiku sementara kedua matanya
telah terpenuhi dengan linangan air mata. Dia mengatakan bahwa 15 tahun
dia di Saudi, tidak pernah seorangpun mengajaknya kepada Islam. Dan di
sini datang seorang gadis kecil yang mendakwahinya. Akhirnya dia masuk
Islam melalui tangannya.
Di
Amerika, mereka mengabarkan bahwa tidak ada obat baginya kecuali
mengamputasi kakinya, karena dikhawatirkan kanker tersebut akan menyebar
sampai ke paru-paru dan akan membuatnya mati. Akan tetapi Afnan sama
sekali tidak takut terhadap amputasi, yang dia khawatirkan adalah
perasaan orang tuanya.
Pada
suatu hari, Afnan berbicara dengan salah satu temanku melalui
Messenger. Afnan bertanya: “Bagaimana menurut pendapatmu, apakah aku
akan menyetujui mereka untuk mengamputasi kakiku?”. Maka dia mencoba
menenangkannya, dan bahwa mungkin bagi mereka untuk memasang kaki palsu
sebagai gantinya. Maka Afnan menjawab dengan satu kalimat: “Aku tidak
memperdulikan kakiku, yang aku inginkan adalah mereka meletakkanku di
dalam kuburku sementara aku dalam keadaan sempurna”. Temanku tersebut
berkata: ”Sesungguhnya setelah jawaban Afnan, aku merasa kecil di
hadapan Afnan. Aku tidak memahami seuatupun, seluruh pikiranku tertuju
kepada bagaimana dia nanti akan hidup, sedangkan pikirannya lebih tinggi
dari itu, yaitu bagaimana nanti dia akan mati”.
Kamipun kembali ke Saudi setelah kami amputasi kaki Afnan, dan tiba-tiba kanker telah menyerang paru-paru!!
Keadaannya
sungguh membuat putus asa, karena mereka meletakkannya di atas ranjang,
dan di sisinya terdapat sebuah tombol. Hanya dengan menekan tombol
tersebut maka dia tersuntik dengan jarum bius dan jarum infus.
Di
rumah sakit tidak terdengar adzan, dan keadaannya seperti orang yang
koma. Tetapi hanya dengan masuknya waktu shalat dia terbangun dari
komanya, kemudian meminta air, kemudian wudhu’ dan shalat, tanpa ada
yang membangunkannya!!
Di
hari-hari terakhir Afnan, para dokter mengabari kami bahwa tidak ada
gunanya lagi ia di rumah sakit. Sehari atau dua hari dia akan meninggal.
Maka memungkinkan bagi kami untuk membawanya ke rumah. Aku ingin dia
menghabiskan hari-hari terakhirnya di rumah ibuku. Di rumah, dia tidur
di sebelah kamar kecil. Aku duduk di sisinya dan berbicara dengannya.
Pada
suatu hari, istri pamannya datang menjenguk. Aku katakan bahwa dia
berada dalam kamar sedang tidur. Ketika dia masuk ke dalam kamar, dia
terkejut kemudian menutup pintu. Akupun terkejut dan khawatir terjadi
sesuatu pada Afnan. Maka aku bertanya kepadanya, tetapi dia tidak mampu
menjawab. Maka aku tidak mampu lagi menguasai diri, akupun pergi
kepadanya. Saat aku membuka kamar, apa yang kulihat membuatku
tercengang. Saat itu lampu dalam keadaan dimatikan, sementara wajah
Afnan memancarkan cahaya di tengah kegelapan malam. Dia melihat kepadaku
kemudian tersenyum. Dia berkata: “Ummi, kemarilah, aku mau menceritakan
sebuah mimpi yang telah kulihat”. Kukatakan “(Mimpi) yang baik
InsyaAllah.” Dia berkata: “Aku melihat diriku sebagai pengantin di hari
pernikahanku, aku mengenakan gaun berwarna putih yang lebar. Engkau,
keluargaku, kalian semua berada di sekelilingku. Semuanya berbahagia
dengan pernikahanku, kecuali engkau ummi.”
Akupun
bertanya kepadaya: “Bagaimana menurutmu tentang tafsir mimpimu
tersebut?”. Dia menjawab: “Aku menyangka, bahwasanya aku akan meninggal
dunia dan mereka semua akan melupakanku, dan hidup dalam keadaan
berbahagia kecuali engkau ummi, Engkau terus mengingatku, dan bersedih
atas perpisahanku”.
Benarlah
apa yang dikatakan Afnan. Aku sekarang ini, saat aku menceritakan kisah
ini, aku menahan sesuatu yang membakar dari dalam diriku, setiap kali
aku mengingatnya, akupun bersedih atasnya.
Pada
suatu hari, aku duduk dekat dengan Afnan, aku, dan ibuku. Saat itu
Afnan berbaring di atas ranjangnya kemudian dia terbangun. Dia berkata:
“Ummi, mendekatlah kepadaku, aku ingin menciummu”. Maka diapun
menciumku. Kemudian dia berkata: “Aku ingin mencium pipimu yang kedua”.
Akupun mendekat kepadanya, dan dia menciumku, kemudian kembali berbaring
di atas ranjangnya. Ibuku berkata kepadanya: “Afnan, ucapkanlah Laa
ilaaha illallah”.
Maka
dia berkata : “Asyhadu alla ilaaha illallah”. Kemudian dia
menghadapakan wajahnya ke arah kiblat dan berkata “Asyhadu alla ilaaha
illallah”. Dia mengucapkannya sebanyak 10 kali, kemudian dia berkata
“Asyhadu alla ilaaha illallah wa asyhadu anna muhammadan rasulullah”.
Dan keluarlah rohnya.
Maka
kamar tempat dia meninggal di dalamnya dipenuhi oleh aroma minyak
kesturi selama 4 hari. Aku tidak mampu untuk tabah, keluargaku takut
akan terjadi sesuatu terhadap diriku. Maka merekapun meminyaki kamar
tersebut dengan aroma lain sehingga aku tidak bisa lagi mencium aroma
Afnan. Dan tidak ada yang bisa aku katakan kecuali Alhamdulillahi Rabbil
“aalamin…
Dikutip dari: Rubrik Kisah pada Majalah Qiblati, edisi 04 tahun III – 2008
Tidak ada komentar:
Posting Komentar